Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bagian Intrinsik Dan Ekstrinsik Drama

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama. Unsur intrinsik mencakup bagian alur, tokoh, latar, tema dan amanat, dan komponen lain yang saling menunjang satu dengan yang lain (Oemaryati, 1971)

a.    Alur, terdiri dari bab 

(1) pemaparan/eksposisi, berisi tentang keterangan mengenai tokoh dan latar atau mengirim prnonton ke dalam persoalan utama yang menjadi isi kisah drama. 
(2) penggawatan/komplikasi, berisi ihwal munculnya kekuatan, kemauan, perilaku, atau persepsi yang saling bertentangan atau munculnya pertentangan di antara tokoh, 
(3) klimaks/krisis ialah klimaks dongeng, bagian ini ialah tahapan saat kontradiksi mencapai titik optimalnya, 
(4)peleraian, tahapan ke arah pemecahan konflik, ketegangan menurun, ketegangan emosional menyusut dan 
(5) penyelesaian/ catastrophe, bab penyelesaian simpulan dari konflik (belakang layar dan kesalahpahaman yang bertalian dengan alur dongeng terjelaskan).

b.    Tokoh dan Penokohan

1)    Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami kejadian atau berlakuan di dalam aneka macam peristiwa dalam lakon. Tokoh menurut perannya dalam lakuan ada tiga macam, selaku berikut:
(1)    Tokoh Protagonis, yakni tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai aktivis lakuan.
(2)    Tokoh Antagonis, ialah tokoh yang berperan sebagai penghalang dan duduk perkara bagi protagonis.
(3)    Tokoh Tritagonis, ialah tokoh yang berpihak pada protagonis / antagonis atau berfungsi menjadi penengah pertentangan antara kedua kalangan tersebut.
Tokoh berdasarkan fungsinya dalam lakon ada tiga macam, selaku berikut:
(1)    Tokoh Sentral, yakni tokoh-tokoh yang paling menentukan dalam seluruh lakuan drama, contohnya tokoh protagonis dan antagonis.
(2)    Tokoh Utama, yaitu pelaku yang diutamakan dalam drama, misalnya tokoh yang paling banyak timbul dan dibicarakan dari permulaan sampai final lakon.
(3)    Tokoh Pembantu, yakni pelaku yang berperan selaku embel-embel dan komplemen dalam seluruh jalinan kisah.
2)    Penokohan adalah penggambaran akhlak kepada tokoh dalam lakon. Watak para tokoh dalam lakon digambarkan menurut kondisi fisik, psikhis, dan sosiologis.

c.Latar/Setting adalah kawasan peristiwa insiden yang mengacu pada segala keterangan ihwal waktu, ruang, dan situasi kejadian dalam drama. Dalam drama diketahui empat jenis latar, yakni latar fisik, latar spiritual, latar netral, dan latar tipikal.


d.    Tema dan Amanat

Tema ialah keseluruhan cerita dan kejadian serta faktor-aspeknya sebagaimana diangkat pencipta dari sejumlah peristiwa yang ada untuk dijadikan lakon. Tema juga mampu disebut pemikiran pkokok yang penyampaiannya sangat disokong oleh jalinan bagian tokoh, plot, dan latar dongeng. Tema erat kaitannya dengan arti dari karya yang ditonton dan bersifat objektif. Sedangkan amanat yakni pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat erat kaitannya dengan makana dan bersifat subjektif, 

e.    Dialog dan Pemikiran

    Dialog adalah cakapan dalam lakon oleh tokoh-tokohnya dengan memakai bahasa verbal yang komunikatif. Dalam obrolan pada setiap lakon melibatkan aliran karena setiap lakon akan menggali ilham-ide dan komentar kepada pengalaman insan baik lewat pernyataan langsung maupun tak langsung.


    Unsur Ekstrinsik  yaitu unsur luar yang menjadi bahan materi pengarang dalam membuat karya sastra (drama) atau usulanbagi pembaca, antara lain biografi pengarang, ajaran dan komponen sosial budaya masyarakatnya (Wellek dan Waren, 1989: 82-153).

1)    Biografi Pengarang

Biografi pengarang dianggap dapat mengambarkan dan menerangkan proses terciptanya sebuah karya sastra (drama) atau sejauh mana biografi pengarang dapat menawarkan masukan ihwal penciptaan karyanya.

2)    Pemikiran

Karya sastra (drama) merupakan bentuk pedoman yang hebat baik aliran psikologis tau filsafati, contohnya drama “Abu” karya B. Soelarto (1968), lakon Abu melukiskan citra insan yang mendapat eksekusi sebagai balasan pembalasan atas kejahatan yang diperbuatnya di kala lalu. Hal ini terjadi perasaan gusar dan panik. Cerita drama ini mengandung ajaran psikologis. Karya Putu Wijaya “Aduh” (1973) mengandung pemikiran filsafat eksistensialisme (pembentukan sifat budbahasa manusia ialah tanggung jawabnya sendiri/ insan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya sebab beliau bebas berbuat apa saja yang dikendaki sendiri). Menunggu Godot karya Samuel Beckett dipentaskan oleh Ws.Rendra mengandung filsafat absurdisme alasannya adalah drama ini berlandaskan anggapan bahwa pada dasarnya keadaan insan itu tidak masuk akal.

3)    Sosial dan Budaya Masyarakat

Hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat diklasifikasikan menjadi:

(1)    Menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan penduduk pembaca termasuk konteks sosial pengarang.

(2)    Menyangkut sastra sebagai cermin penduduk .

(3)    Menyangkut seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial. Sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan pendidikan bagi penduduk pembaca.

Dalam relasi insan sebagai sastrawan dengan penduduk mampu diambil acuan anatara lain: 
(1) masalah yang lemah menghadapi pergeseran sosial mirip dalam lakon “Domba-domba Rewolusi (1967) karya B. Soelarto, 
(2) masalah manusia yang mengalami dekadensi sopan santun mirip dalam lakon “Edan” (1977) karya Putu Wijaya, 
(3) masalah golongan masysrakat pinggiran seperti dalam lakon “RT Nol/RW Nol (1968) karya Iwan Simatupang, 
(4) duduk perkara insan yang mencari kenyamanan hidup seperti dalam lakon “Barabah” (1961) karya Motinggo Busye, dsb.

Semoga berita yang aku sampaikan ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan Anda.